Firaun merupakan seorang raja yang sangat dhalim dan berani mengaku diri sebagai tuhan, dia berani berbuat apa saja demi tercapai tujuannya, baik membunuh, merampas dan lain sebagainya.
RUMAH TANGGA FIR’AUN
Fir’aun menikah dengan seorang wanita yang sangat saleh dan ta’at kepada Allah yang namanya Siti Asiyah. Siti Asiyah berasal dari keluarga yang sangat miskin, tetapi mempunyai wajah yang sangat cantik dan tubuh yang bagus, sehingga setiap orang yang memandangnya pasti terpesona.
Suatu hari Fir’aun mendengar berita tentang kecantikan Asiyah, maka dia mengutus bawahannya untuk melamar Asiyah. Sebagai seorang wanita yang salihah sudah tentu Asiyah menolak lamaran Fir’aun, yang merupakan seorang kafir sekaligus raja yang sangat zalim.
Demi mengetahui lamarannya ditolak, fir’aun memerintahkan para algojonya untuk menyeret Asiyah ke istana dalam keadan senang maupun tidak senang. Maka Fir’aun pun memaksa Asiyah untuk kawin dengannya. Namun Asiyah tetap pada pendiriannya tidak mau dinikahi oleh Fir’aun yang bejat. Fir’aun sangat marah dan memerintahkan agar Asiyah di cambuk dan di jebloskan ke dalam penjara. Tapi usaha ini tetap tidak membawa hasil yang menggembirakan bagi Fir’aun, malah pendirian Asiyah semakin teguh.
Sebagai seorang raja yang sangat licik dan kejam, usaha Fir’aun tidak berhenti sampai di situ. Fir’aun memerintahkan kepada pengawalnya agar kedua orang tua Asiyah diseret ke istana. Maka kedua orang tua Asiyah juga tidak luput dari siksaan, mereka dicambuk dan di tarik dengan kuda di padang pasir di tengah terik mata hari. Sehingga dari tubuh orang tua Asiyah mengalir darah segar karena mengalami luka yang sangat parah.
Sebagai seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, Asiyah tidak tega melihat penderitaan kedua orang tuanya yang tak terperikan. Maka tak ada jalan lain bagi Asiyah selain menerima lamaran Fir’aun demi keselamatan kedua orang tuanya.
Maka Fir’aun pun berhasil menikahi Asiyah. Namun itu hanya pada zahiriyah saja. 1Karena Allah Subhanahu Wata’ala tidak rela hamba-Nya yang ta’at dinodai oleh Fir’aun si raja bejat. Karena Allah yang Maha Kuasa menggantikan Asiyah dengan setan untuk digauli oleh Fir’aun. Dengan demikian Fir’aun tidak pernah sekalipun sempat menggauli Asiyah, sehingga Asiyah masih tetap tidak tersentuh laki-laki sampai akhir hayatnya.
MIMPI YANG MEMBAWA KETAKUTAN
Suatu malam Fir’aun bermimpi melihat api yang berkobar membakar istananya dan seluruh rumah-rumah masyarakat Qibthi (bangsa asli Mesir). Anehnya api yang berasal dari Baitul Maqdis tersebut tidak mencelakai warga Bani Israel. Maka Fir’aun pun mengumpulkan seluruh dukun dan ahli nujum termasuk tukang sihir untuk dimintai pendapatnya tentang tafsir mimpinya tersebut.
Mereka semua berpendapat bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israel yang akan sanggub menumbangkan Fir’aun dan pasukannya. Untuk mengantisipasi hal yang sangat tidak diinginkannya tersebut, Fir’aun mengeluarkan sebuah ultimatum yang memerintahkan agar setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israel harus dihabisi.
Maka fir’aun mengirim orang-orangnya ke segenap penjuru negeri, semua tenaga dikerahkan untuk mencari wanita-wanita dari kalangan Bani Israel yang akan melahirkan. Orang-orang Fir’aun menjelajahi semak belukar, hutan rimba, bukit dan gunung, seolah-olah tidak ada sejengkal tanah pun yang dibiarkan terlewati.
Orang-orang Fir’aun yang bengis dan kejam bagaikan mesin pembunuh yang tanpa belas kasihan menyembelih semua bayi laki-laki yang dilahirkan oleh wanita Bani Israel.
Hal ini selain untuk mencegah terjadinya apa yang terliat dala mimpi Fir’aun juga untuk melemahkan kekuatan Bani Israel yang memang berpotensi untuk menghalangi dan mengalahkan Fir’aun.
LAHIRNYA NABI MUSA
Dalam suasana yang sangat mencekam dan mengerikan tersebut, sebuah keluarga dari warga Bani Israel sedang menuggu kelahiran seorang bayi. Keluarga tersebut merupakan keluarga Imran. Keadaan menjadi lebih mencekam ketika mereka mendapati kenyatan bahwa bayi yang lahir merupakan seorang anak-laki.
Namun Azarikha istri Imran tidak kehilangan akal, beliau memasukkan sang bayi dalam periuk di atas perapian. Dengan izin Allah sang bayi tetap selamat dan hal ini dapat mengecoh para pengawal Fir’aun.
Akhirnya khazarah memasukkan sang bayi kedalam sebuah peti dan dihanyutkan di sungai Nil. Hal ini dilakukan oleh Azarikha setelah mendapat perintah dari Allah melalui Jibbril sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran :
واذ يوحى الى امك ما يوحى ان اقذ فيه فى التابوت
Setelah terkatung-katung dalam buayan air sungai itu, akhirnya peti tersebut ditemukan oleh para wanita pelayan Fir’aun. Tetapi karena peti itu tertutup rapat mereka tidak berani segera membuka melainkan mem;persenbahkan kepada istri Fir’aun, Asiyah binti Muzahim. Rupanya Asiyah sangat tertarik kepada bayi laki-laki itu, karena wajahnya bersinar. Maka timbul keinginan Asiyah untuk mengadopsi bayi tersebut, karena memang Asiyah tidak punya anak.
Namun Fir’aun sangat sinis terhadap anak tersebut. “Siapa anak ini?” Tanya Fira’aun. “Bunuh dia!” Perintahnya tegas setelah mengetahui bahwa bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja Asiyah berusaha keras mencegah maksud Fir’au.
Dengan naluri kewanitaannya ia berusaha menganulir keputusan Fir’aun. “Jangan bunuh dia ! karena dia penyejuk mata hati bagiku dan bagimu” ucapan Asiah ini kelak menempatkannya sebagai penghuni surga. Sejak itu Musa menjadi anak angkat Firaun tinggal di istana dan diperlakukan sebagai mana layaknya anak seorang raja, meskipun Firaun tidak menyukainya.
Di lain pihak Azalikha sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Ketika peti yang berisi Musa terpaksa ia lepaskan ia hampir berteriak minta tolong kepad a orang-orang untuk mengambilnya, ia kemudian memerintahkan kepada anak sulungnya yang perempuan unutk mengikuti peti itu dari kejauhan sampai akhirnya dipungut oleh budak Firaun.
Untuk menyusui Musa dalam istana Firaun banyak perempuan yang bersedia dan menawarkan dirinya kepada Asiyah. Namun setiap wanita yang mencoba menyusui Musa tidak pernah berhasil, karena Musa yang masih bayi selalu menolaknya, akibatnya Asiyah kelabakan karena khawatir Musa akan kelaparan. Ia kemudian menyuruh mencari perempuan lain di luar istana yang sanggup menyusui Musa. Ketika berita itu tersebar di masyarakat datanglah saudara perempuan Musa tadi dan menawarkan seorang wanita yang seanggup menyusui Musa dan memlihara Musa dengan baik. Perempuan itu tak lain adalah Azarikha ibu Musa sendiri kemudian dipanggil ke istana dan begitu dipertemukan dengan Musa langsung dipeluk erat-erat oleh bayi Musa.
Azarikha diminta unutk tinggal di istana. Dengan alasan mempunyai suami dan anak-anak ia menolak tinggal di isatana, namun setelah mendapat jaminan bahwa keluarganya boleh ikut ke istana akhirnya ia bersedia. Dan sejak itu keluarga Musa berkumpul lagi, ini sesuai dengan firman Allah swt surat al-Qashash ayat 7-13 yang artinya : Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya agar hatinya senang dan supaya ia tahu bahwa janji Allah swt itu benar.
FIRAUN MENGHUKUM MUSA
Nasib malang menimpa Musa, sebagai anak balita ia harus menerima hukuman kejam dari Firaun. Pasalnya ia dengan tidak sengaja menarik jenggot Firaun yang panjangnya sampai pusar. Padahal biasanya Musa hanya mempermaikannya saja, Firaun kaget dan marah-marah sehingga timbul niat untuk menghukum Musa, tapi Asiyah melarang “dia masih anak-anak, jangan hukum dia” katanya. Namun usaha itu sia-sia, Firaun tetap pada rencana semula.
Musa disuruh memilih buah dan bara api yang diletakkan diantara dua tangan Firaun, tentu saja Musa memilih api karena bercahaya tanpa rasa kasihan Firaun kemudian memasukkan bara api dalam mulut Musa, sejak itu mulut musa cacat, sehingga ucapan-ucapannya kadang sulit dimengerti lawan bicaranya. Pada saatnya nanti Musa memohon kepada Allah swt agar mengangkat saudaranya Harun sebagai Nabi yang akn mendampinginya, karena Harun lebih pasih dari padanya.
FIRAUN INGIN MEMBUNUH MUSA
Kehidupan di istana Firaun lambat laun terasa menjemukan bagi Musa, apalagi setelah diketahuinya bahwa dia bukan anak Firaun, melainkan anak angkat. Terlebih lagi ketika ia menyadari bahwa ia tidak satu golongan dengan bapak angkatnya yaitu golongan Qibthi, sedangkan beliau sendiri dari golongan Bani Israil yang diperlakukan sewenang-wenang oleh Firaun.
Suatu hari Musa menyelinap keluar istana dengan menyamar, karena dalam istana Musa diperlakukan sebagai pangeran. Di suatu tempat ia melihat perkelahian dua orang laki-laki. Begitu melihat Musa, salah seorangnya menghampiri Musa dan meminta perlindungan, orang tersebut ternyata dari golongan Bani Israil, kalau tidak mana berani dia mendekati Musa. Ia mengadu bahwa lawannya adalah orang Qibthi. Merasa satu satu golongan Musa lantas menghantam orang Qibthi itu hingga roboh. Musa merasa kaget dan menyesali perbuatannya karena ia tidak ingin membunuh melainkan hanya ingin membantu saja.
Setelah tersebar berita terbunuhnya orang Qibthi di tangan Musa, mereka merasa marah, begitu juga dengan Firaun. Firaun memrintahkan tentaranya untuk memburu dan membunuh Musa. Musa keluar dari negeri mesir setelah ia tahu bahwa dirinya sedang dicari oleh penguasa saat itu unutk dibunuh.
FIRAUN DAN TENTARANYA TENGGELAM DI LAUT MERAH
Setelah sekian lama terjadi pertikaian antara Firaun dengan Musa, mulai dari ketika pulangnya Musa dari pelariannya. Pada suatu hari keluarlah musa kepinggir laut besertanya ada tujuh puluh ribu pengikut dari Bani Israil. Firaun mengikuti Musa dengan membawa ribuan bala tentara, mana kala kaum Musa melihat Firaun dan tentaranya kaum Musa merasa takut dan berkata “Firaun pasti akan menemukan kita” tetapi Musa berkata “janganlah kalian takut, karena besertaku ada tuhanku yang selalu melihat dan memberi pertolongan”
Maka datanglah wahyu dari Allah swt kepada Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya sehingga terbelahlah laut bagaikan jalan dan kaum musa menyeberangi alut tersebut dengan keadaan selamat. Manakala Firaun dan tentaranya memasuki kedalam belahan laut maka Allah swt memerintahkan kepada Musa untuk memukul tongkatnya ke laut lagi sehingga laut kembali bersatu dan Firaun tewas di dalamnya. Kejadian tersebut terjadi pada hari rabu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar